Disini tempatnya untuk berdiskusi...
Anda belum login.
Generasi Televisi Kita
Dominasi penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya
hidup. Salah satunya adalah soal pilihan menu. Penyakit degeneratif
dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari
kecil. Itulah sebabnya jantung koroner dan stroke kini menimpa usia
lebih muda.
Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi
masih kecil. Cita rasa dirusak oleh menu restoran dan jajanan
(snackaholic) sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak menyukai sayur
lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan rumah.
Sungguh celaka kini kita melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung
dan desa. Di mana-mana anak memilih keripik ketimbang kacang rebus.
Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan serta
mencari ubi, labu, bulgur, dan padi-padian alami, masyarakat kita
masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk.
Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya dan kerupuk memakai
penyedap serta zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.
Gizi �hgenerasi televisi�h
Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai �hgenerasi
televisi�h. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan
iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih- alih bergizi. Yang
aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap dan pemanis
buatannya (sweetener).
Tentu tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman
buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Tabiat serba manis,
asin, dan berlemak dari menu jajanan adalah sumber penyakit di hari
depan. Namun, sihir iklan makanan televisi mengecoh cita rasa sehat
anak kita.
Zat kimia bertambah
Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah.
Namun, Food and Drugs Agency (FDA), semacam Badan Pengawas Obat dan
Makanan (POM), di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang
membahayakan kesehatan.
Sementara itu, industri makanan rumahan begitu menjamur di sini
sehingga tidak terjangkau oleh rentang kendali Badan POM sendiri.
Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang nekat memakai
bahan berbahaya plastik untuk bikin garing gorengan, mencampurkan
kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah
keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman
dikonsumsi.
Beberapa negara sudah melarang untuk mengonsumsi minyak trans. Hampir
semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak
yang tak menyehatkan.
Sama tak menyehatkannya dengan minyak goreng bekas restoran yang
ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan.
Orang kaya dan rakyat papa kini sama-sama memikul risiko kanker sebab
tak menginsafi bertahun-tahun menelan karsinogen pencetus kanker dalam
makanan sehari-hari.
Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di ibu kota negara pun
masih banyak beredar, apalagi di kampung dan desa. Tiap hari kita
menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal
murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti
bibit kanker tengah ditanamkan.
Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk antibelatung yang
disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet
kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta
jajanan, tak semua terbebas dari zat karsinogen (bersifat menyebabkan
kanker).
Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu dan sepuluh
tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika
konsumsi menu tercemar karsinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi
orang tua yang tergoda menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan
konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.
Daripada makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul
lebih aman, tetapi kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan
mentega (junk food). Adapun makanan buatan rumahan selain belum tentu
cukup bergizi dan tak higienis, mungkin tak aman dikonsumsi jika kita
melihat zat aditif yang dipilih.
Adalah kewajiban pemerintah menyediakan makanan yang aman bagi
masyarakat. Masyarakat berhak dilindungi dari ancaman makanan yang
merusak kesehatan.
Ke �hmeja makan nenek�h
Sudah saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih
menu �hmeja makan nenek�h. Selain lebih murah, menu makanan itu juga
menyehatkan.
Menu tradisional bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang
menyehatkan itu bukanlah bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat
atau ayam goreng, melainkan pisang rebus atau tahu dan tempe bacem.
Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit,
melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tak lebih menyehatkan
daripada gandum dan air tebu.
Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan
kalori dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan.
Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh
itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini. Ketika ubi,
ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, serta
umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditas itu yang sedang
digandrungi dan dicari orang sekarang.
Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang
gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.
Ketika semakin banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan
enzim, maka orang mengejar sayuran dan buah-buahan segar saja.
Orang meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang
diolah secara berlebihan, atau dengan cara serta alat masak yang
berbahaya kandungan bahan logamnya, dan tingkat pengapiannya.
Belum terlambat kampanye menu sehat dan makanan aman di sekolah,
selain mendorong peran media massa dan televisi khususnya.
Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan
ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu
makanan alami yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.
Demi tujuan menginvestasi generasi yang sehat, lidah anak perlu
disetel ulang. Jangan sampai lagi kita membangun �hgenerasi kerupuk�h
dan kelompok usia produktif yang pada akhirnya nanti sampai (harus)
mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena
sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu dan jajanan.
HANDRAWAN NADESUL Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, Penulis Buku
Offline